Sumber Daya Alam Flora dan Fauna di TN Meru Betiri Jawa Timur

Sumber Daya Alam Flora dan Fauna di TN Meru Betiri Jawa Timur – Tidak hanya TN Alas Purwo, Jawa Timur pula mempunyai Taman nasional yang lainnya, ialah Taman Nasional Meru Betiri. Area ini ialah kombinasi antara area darat serta perairan, alhasil memiliki jenis ekosistem yang lumayan komplit.

Sumber Daya Alam Flora dan Fauna di TN Meru Betiri Jawa Timur

forester – Situasi alam TN Meru Betiri pula lumayan bermacam- macam dan jadi lingkungan ataupun‘ rumah’ buat bermacam tipe flora serta fauna. Oleh karena itu, tidak tidak sering sebagian genus yang dikira musnah bisa ditemui di taman nasional ini. Area hutan Meru Betiri pula jadi zona pelestarian buat bermacam tipe belukar serta binatang yang dilindungi.

Melansir wikipedia, Sejaran dari Taman Nasional Meru Betiri telah diawali semenjak lama. Area hutan Meru Betiri awal kali diresmikan selaku Hutan Lindung pada tahun 1931 oleh pihak penguasa Belanda yang dikala itu menyuruh Indonesia, kemudian status itu diperkuat pada tahun 1938.

Pada tahun 1972, area Hutan Lindung Meru Betiri hadapi pergantian status jadi Pengungsian Margasatwa Meru Betiri seluas 50. 000 hektar yang diresmikan oleh Menteri Pertanian. Penentuan ini bermaksud buat berikan proteksi penting kepada gembong Jawa( Panthera tigris sondaica) yang berhabitat di area ini.

Berikutnya pada tahun 1982, area Pengungsian Margasatwa Meru Betiri hadapi ekspansi area, alhasil luasnya yang dahulu 50. 000 hektar jadi 58. 000 hektar oleh Menteri Pertanian.

Besar itu didapat sehabis mencampurkan 2 enclave perkebunan, ialah Perkebunan Sukamade serta Bandealit yang memiliki besar 2. 155 hektar dan areal hutan lindung yang terletak di bagian utara serta area perairan laut di sejauh tepi laut selatan dengan besar 845 hektar.

Sedang di tahun yang serupa, area Pengungsian Margasatwa Meru Betiri setelah itu dicalonkan selaku dari Taman Nasional Meru Betiri oleh Menteri Pertanian. Ketetapan dengan cara sah setelah itu pergi pada tahun 1997 lewat Pesan Ketetapan Menteri Kehutanan Nomor. 277 atau Kpts- VI atau 1997 mengenai Taman Nasional Meru Betiri seluas 58. 000 hektar.

Julukan taman nasional ini didapat dari julukan gunung paling tinggi yang terletak di area taman nasional, ialah Gunung Betiri dengan ketinggian 1. 223 m di atas permukan laut serta Gunung Meru dengan ketinggian 500 m di atas dataran laut

Baca juga : Sumber Daya Alam TN Komodo, Sebagai 7 Keajaiban Dunia

Kondisi Alam TN Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri dengan cara geografis terletak pada koordinat 8°21’– 8°34’ Lintang Selatan serta 113°37’– 113°58’ Panjang Timur. Sebaliknya dengan cara administratif berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.

Batas- batas area taman nasional pada bagian utara berbatasan dengan zona Perum Perhutani RPH Curahtakir serta PT. Perkebunan Treblasala, dan pada bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Sedangkan pada bagian timur area taman nasional berbatasan dengan Dusun Sarongan serta zona kepunyaan PTPN XII Sumberjambe serta pada bagian barat berbatasan dengan Dusun Sanenrejo, Dusun Curahnongko, Dusun Andongrejo, Perum Perhutani RPH Sabrang, zona PTPN XII Kalisanen, serta PTPN XII Kotta Blater.

Area yang terletak pada ketinggian antara 900 sampai 1. 223 m di atas dataran laut ini memiliki topografi bermacam- macam, antara lain lapangan di zona tepi laut, beriak, berbukit, hingga dengan bergunung- gunung. Sebagian gunung di area ini ialah Gunung Betiri, Gunung Sukamade, Gunung Bocong, Gunung Memanggul, Gunung Mandilis, serta Gunung Meru.

Topografi di zona tepi laut biasanya berbukit- bukit sampai bergunung- gunung dan memiliki tebing yang relatif terjal. Sedangkan zona tepi laut latar ialah beberapa kecil area ini.

Sebagian tepi laut yang terdapat di area Meru Betiri antara lain Tepi laut Menu, Tepi laut Rajegwesi, Tepi laut Sukamade, Tepi laut Permisan, serta Tepi laut Bandealit.

Bersumber pada pengelompokan Schmidt serta Ferguson, Taman Nasional Meru Betiri memiliki hawa yang beraneka ragam. Pada bagian utara serta timur, ialah Sukamade sampai Malangsani iklimnya merupakan jenis B, sebaliknya pada bagian selatan serta barat iklimnya merupakan jenis C.

Curah hujan pada umumnya di area ini sebesar 2. 300 hingga 4. 000 milimeter per tahun. Masa penghujan mengarah berjalan lebih lama dibandingkan masa gersang dengan perbandingan 7 bulan serta 4 bulan.

Area ini pula dialiri sebagian bengawan, semacam Bengawan Permisan, Bengawan Menu, Bengawan Sekar yang alirannya bermuara di Tepi laut Selatan Jawa, serta Bengawan Sukamade yang tidak sempat kering sejauh tahun.

Bersumber pada hasil riset tahun 1976, Taman Nasional Meru Betiri paling tidak mempunyai 3 tipe tanah, ialah aluvial yang bisa ditemukan di area lembab yang kecil sampai zona tepi laut, tanah latosol umumnya terletak di pucuk gunung serta lereng, serta tanah regosol pula terletak di area serupa dengan tanah latosol.

Situasi tanah di bagian selatan taman nasional ialah percampuran antara tanah mediteran kuning yang diketahui kurang produktif, sedangkan di bagian utara tanahnya memiliki batuan vulkanik yang diketahui produktif.

Situasi ilmu bumi area ini amat bermacam- macam mulai dari berpasir, lumpur, batu belet dengan selangan batu lanau, batu gamping, batu belet dengan selangan tuf, batu gamping tufan, terproplitikn, lahar serta tuf, breksi gunung api, basal dengan selangan tuf, sarta batuan inovasi.

Jenis ekosistem yang ada di Taman Nasional Meru Betiri ini berjumlah 5 jenis, ialah ekosisitem hutan tepi laut, ekosistem hutan rawa, ekosisitem hutan hujan lapangan kecil, ekosisitem hutan mangrove, serta ekosisitem hutan rheophyte.

Pengurusan taman nasional mempraktikkan sistem zonasi dengan keseluruhan 5 alam, ialah alam inti seluas 27. 915 hektar, alam rehabilitasi seluas 4. 023 hektar, alam rimba seluas 22. 622 hektar, alam eksploitasi intensif seluas 1. 285 hektar, serta alam cagak seluas 2. 155 hektar.

Flora dan Fauna TN Meru Betiri

Terdapat banyak sekali flora serta fauna yang bisa ditemukan di Halaman Nasional Meru Betiri. Terlebih area ini diketahui memiliki jenis ekosistem yang komplit. Perihal ini pula jadi alibi kenapa terdapat sedemikian itu banyak keragaman biologi, bagus belukar serta fauna sangat jarang yang membuat lingkungan di area ini.

Sebagian belukar tepi laut yang hidup di halaman nasional ini antara lain bakau (Rhizophora sp.), api-api (Avicennia sp.), pulai (Alstonia scholaris), bungur (Lagerstroemia speciosa), waru (Hibiscus tiliaceus), nyamplung (Calophyllum inophyllum), Bruguiera sp., Sonneratia sp., bendo (Artocarpus elasticus), serta tipe obat- obatan.

Sebagian belukar obat yang hidup di area ini ialah cabai jawa (Piper refrofractum), kluwek (Pangium edule), kedawung (Parkia roxburghii), pule pandak (Rauwolfia serpentina), kemukus (Piper cubeba), joho lawe (Terminalia balerica), gadung (Dioscorea hispida), widoro upas (Merremia mommosa), pulasari (Alyxia reinwardtii), dan jati belanda (Guazuma tomentosa).

Taman nasional ini pula jadi lingkungan bunga padmosari(Rafflesia zollingeriana) yang tercantum ke dalam tipe belukar dilindungi serta ialah flora endemik halaman nasional. Bunga padmosari sesungguhnya ialah belukar holoparasit yang tergantung seluruhnya dari belukar lain buat penuhi makanannya.

Belukar yang jadi inangnya merupakan liana(Tetrastigma lanceolarium, serta Tetrastigma papillosum). Garis tengah dari bunga padmosari berkisar antara 15 hingga 33 centimeter dengan jumlah kepala ekstrak antara 32 sampai 40 biji. Istimewanya bunga ini menciptakan bulir tanpa melampaui cara pembenihan, sebab diketahui selaku belukar berumah 2.

Pada area ini ada belukar benalu, ialah Balanhopora fungosa yang ialah genus dilindungi sebab keberadaannya amat sangat jarang. Genus ini dikenal cuma berkembang di dekat Bandealit serta Teluk Hijau serta yang jadi inangnya merupakan genus Ficus spp..

Tidak hanya itu, tipe flora yang pula bisa ditemukan di area ini ialah, suren (Toona sureni), bayur (Pterospermum javanicum) kemiri (Aleurites moluccana), segawe (Adenathera microsperma), glintungan (Bischoffia javanica), aren (Arenga pinnata), pohon durian (Durio zibethinus), serta langsat (Langsium domesticum).

Bisa pula ditemukan sebagian genus bambu semacam bambu bubat(Bambusa sp.), bambu lampen( Shizastychyum branchyladium), serta bambu wuluh( Shizastychyum blumei). Pula golongan anggrek yang terdaftar berjumlah sekurang- kurangnya 27 genus.

Genus rotan pula jadi belukar yang hidup di halaman nasional ini. Sebagian antara lain merupakan rotan mansis( Daemonorops melanocaetes), rotan slatung(Plectomocomia gistigma), serta pula rotan warak(Plectomocomia elongate).

Terdapat banyak sekali tipe binatang yang hidup di area Halaman Nasional Meru Betiri. Mulai dari binatang menyusui, kukila ataupun aves, reptil, serta amfibi. Sedangkan buat tipe binatang yang dilindung mayoritas berawal dari golongan binatang menyusui serta kukila, namun terdapat pula genus semacam penyu yang terkategori dalam binatang yang dilindungi.

Dikenal terdapat 29 genus dari golongan binatang menyusui dan 180 genus dari golongan kukila di halaman nasional. Seluruh genus dari kedua golongan itu pula terkategori ke dalam tipe binatang yang dilindungi.

Sebagian di antara binatang yang dilindungi ialah musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), macan tutul (Panthera pardus melas), monyet kera berekor panjang (Macaca fascicularis), (Cervus unicolor), rusa (Cervus timorensis russa), kucing kampung (bahasa latin:Prionailurus bengalensis javanensis), serta juga bajing terbang berekor sembilan merah (Iomys horsfieldii).

Tidak hanya itu terdapat pula elang (Spizaetus alboniger), burung merak (Pavo muticus), ajag (Cuon alpinus javanicus), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu lekang atau pun juga disebut dengan penyu ridel (Lepidochelys olivacea).

Baca juga : Gili Labak Merupakan Salah Satu Spot Snorkeling Terbaik di Indonesia

Tidak cuma itu, genus lain yang pula dilindungi ialah kijang (Muntiacus muntjak), banteng (Bos javanicus), kancil (Tragulus javanicus), landak (Histryx javanica), linsang (Prionodon linsang), Accipiter trivirgatus, Hieraaetus kienerii, Falco moluccensis, Otus lempiji, dan juga Glaucidium castanopterum.

Area taman nasional ini pula jadi lingkungan terakhir untuk harimau loreng Jawa(Panthera tigris sondaica). Binatang ini merupakan salah satu genus yang dilindungi sebab statusnya rawan musnah.

Genus lain yang pula hendak ditemukan ialah kukang (Nycticebus coucang), burung julang (Ryticeros undulatus) lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga kangkareng (Anthracoceros convexus) yang ialah genus dari keluarga kukila berparuh besar.

Golongan kukila air yang hidup di halaman nasional ini berjumlah dekat 14 tipe ialah kuntul karang (Egretta sacra), pecuk ular (Anhinga melanogaster), kuntul (Egretta garzetta), bangau hitam (Ciconia episcopus), kuntul kerbau (Bulbucus ibis), serta juga blekek (Limnodromus sempalmatus).

Genus lain ialah roko-roko (Plegadis falcinellus), dara laut yang berjambul besar (Sterna bergii), trinil pantai (Tringa hypoleucos), ayam-ayaman atau juga truwok (Gallicres cinerea), trulek (Hiamantopus linnaeus), cangak merah (Ardea purpurea), serta juga elang laut (Haliaeetus leucogaster).