Sumber Daya Alam yang Terdapat di TN Alas Purwo Banyuwangi

Sumber Daya Alam yang Terdapat di TN Alas Purwo Banyuwangi – Taman Nasional Alas Purwo ialah salah satu taman nasional yang terletak di timur Pulau Jawa.

Sumber Daya Alam yang Terdapat di TN Alas Purwo Banyuwangi

forester – Dalam bahasa Jawa, julukan area ini mempunyai maksud‘ kawitan’ ataupun‘ permulaan’. Hutan di zona ini dikira selaku hutan tertua di Jawa. Tidak hanya itu, area ini pula diketahui berhantu serta dikeramatkan sampai dikala ini.

Dikutip dari wikipedia, Terbebas dari dongeng angkernya area Alas Purwo, pesona alam yang dipunyanya amat mempesona. Jenis eksositem yang bermacam- macam berbaur dengan hamparan alam menghasilkan area ini kayangan buat bermacam tipe flora serta fauna. Perihal itu sekalian menghasilkan area ini selaku posisi darmawisata yang menarik.

Kondisi Alam TN Alas Purwo

Dengan cara geografis TN Alas Purwo terletak pada 8°26’ 45’’– 8°47’ 00’’ Lintang Selatan serta 114°20’ 16’’– 114°36’ 00’’ Panjang Timur. Sedangkan dengan cara administratif berada di Kecamatan Tegaldlimo serta Kecamatan Purwoharjo, wilayah Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Baca juga : Sumber Daya Alam Berlimpah di Taman Nasional Karimun Jawa

Situasi topografi area ini dengan cara biasa merupakan latar, miring, beriak enteng di area bagian baratnya, sampai bergunung- gunung dengan Gunung Lingga Manis yang terletak pada ketinggian 322 m di atas dataran laut selaku pucuk tertingginya.

Pada sebagian titik ada zona yang terjal serta umumnya ada pada batu gamping dari rentang waktu Miosen- Pliosen yang setelah itu terangkat ke dataran dampak terbentuknya interaksi dari pertemuan antara Lempeng Eurasia( continental plate) serta Lempeng Samudera Hindia( oceanic plate).

Temperatur di Taman Nasional Alas Purwo pada umumnya terletak pada kisaran 22 sampai 31 bagian celcius dengan kelembaban hawa antara 40% sampai 85%. Ada pula curah hujan di area ini pada umumnya 1. 000 sampai 1. 500 milimeter per tahunnya.

Curah hujan di bagian barat area taman nasional mengarah lebih besar dibanding dengan bagian timur. Umumnya masa hujan di area ini berjalan dari bulan Oktober sampai bulan April, sebaliknya masa gersang terjalin pada bulan April sampai bulan Oktober.

Bengawan yang mengaliri taman nasional ini pada biasanya merupakan bengawan dengan daya cetek serta pula pendek. Sebagian bengawan hendak kering pada masa gersang. Tetapi ada bengawan yang mengalir lalu sejauh tahun yang terletak di sisi barat taman nasional, semacam Bengawan Segoro Anak serta Bengawan Sunglon Ombo.

Tidak hanya bengawan bisa pula ditemukan mata air di area ini yang jadi pangkal kehidupan untuk keragaman biologi. Mata air itu terhambur di dekat Gunung Kunci, Gunung Kuncur, Terowongan Basori, serta pula Sendang Srengenge.

Nyaris semua tanah yang terdapat di area Alas Purwo ialah tipe tanah liat berpasir serta cuma beberapa kecil yang ialah tipe tanah belet. Terdapat 4 tipe tanah yang bisa ditemukan di area ini, ialah tanah Meditean Merah- Litosol, tanah Aluvial Hidromorf, tanah Regosol Membodohi, serta pula tanah Grumosol Membodohi.

Tanah berjenis Aluvial Hidromorf merupakan tipe tanah yang memimpin area ini. Cakrawala tanah tipe ini memiliki karakter semacam yang sudah dituturkan tadinya, ialah bertekstur liat, bercorak membodohi, dan memiliki permiabilitas lelet. Umumnya tanah ini kerap digenangi air dan bercorak kira- kira gelap.

Jenis hutan di Taman Nasional Alas Purwo bisa dikelompokkan bersumber pada jenis ekosistemnya. Ada pula jenis hutan itu antara lain hutan tepi laut, hutan bambu, hutan bakau ataupun mangrove, hutan tumbuhan pabrik, hutan alam, serta pula padang penggembalaan ataupun feeding ground.

Pengurusan taman nasional ini pula mempraktikkan sistem zonasi dengan 4 alam. Keempat alam itu ialah alam inti seluas 17. 200 hektar, alam rimba seluas 24. 767 hektar, alam eksploitasi seluas 250 hektar, serta alam cagak seluas 1. 203 hektar.

Sumber Daya Alam TN Alas Purwo

Area Alas Purwo yang memiliki ekosistem bermacam- macam jadi pemicu area ini mempunyai keragaman biologi yang besar. Bermacam tipe belukar serta binatang hidup di taman nasional akhir timur Pulau Jawa ini, mulai dari tipe endemik, khas, sangat jarang, apalagi tipe migran.

Terdaftar sangat sedikit terdapat 584 tipe flora yang berkembang di Taman Nasional Alas Purwo. Area yang ialah area hutan hujan lapangan kecil ini ditumbuhi bermacam vegetasi, semacam rumput, pepohonan, kelompok, herba, belukar, serta pula liana.

Sebagian tipe flora endemik serta khas yang berkembang di area ini antara lain sawo kecik( Manilkara kauki) serta bambu manggong( Gigantochloa manggong). Tidak hanya itu, flora lain yang pula bisa ditemukan ialah kepuh( Sterculia foetida), ketapang( Terminalia cattapa), bambu, nyamplung( Calophyllum inophyllum), dan keben( Barringtonia asiatica).

Terdaftar terdapat 50 tipe dari golongan binatang menyusui yang menghunia Taman Nasional Alas Purwo. Sebagian antara lain ialah monyet akhir jauh( Macaca fascicularis), lutung budeng( Tracypithecus auratus), garangan( Herpestes javanicus), linsang( Prionodon linsang), dan jelarang( Ratufa bicolor).

Genus binatang menyusui yang lain ialah banteng( Atasan javanicus), macan bintik( Panthera pardus), rusa( Cervus timorensis), rase( Vivericula indica), ajag( Cuon alpinus), kucing hutan( Felis bengalensis), kijang( Muntiacus muntjak), babi hutan( Sus scrofa), serta pula luwak( Paradoxurus hermaprhoditus).

Golongan aves ataupun burung yang sukses ditemui di taman nasional ini berjumlah 302 tipe. Tipe itu yang umumnya lumayan gampang buat ditemukan antara lain ayam hutan hijau( Galus varius), ayam hutan merah( Gallus gallus), mentok rimba( Cairina scutulata), dan cewek laut bulu- bulu( Sterna bergii),

Tidak cuma itu saja, genus semacam kuntul kecil( Egreta garzeta), merak hijau( Pavo muticus), elang ular bido( Spilornis cheela), elang laut perut putih( Haliaeetus leucogaster), rangkong badak( Buceros rhinoceros), serta cekakak jawa( Halcyon cyanoventris) pula tercantum ke dalam kalangan aves yang gampang ditemukan.

Dari golongan reptil serta amfibi yang pula diketahui selaku herpetofauna dikenal berjumlah 63 genus yang dibagi ke dalam 48 genus reptil serta 15 genus amfibi. Dari 48 genus reptil, terdaftar terdapat 6 genus yang ialah tipe dilindungi.

Keenam genus itu merupakan penyu lekang ataupun penyu abu- abu( Lepidochelys olivacea), penyu sisik( Eretmochelys imbricata), biawak abu- abu( Varanus nebulosus), penyu hijau( Chelonia mydas), penyu belimbing( Dermochelys coriacea), dan ular sanca bodo( Python molurus).

Wisata di TN Alas Purwo

Perihal menarik lain dari Taman Nasional Alas Purwo merupakan banyaknya tujuan darmawisata yang bisa didatangi oleh para wisatawan. Perihal itu pula tidak bebas dari situasi alam taman nasional ini yang lumayan beraneka ragam. Searah dengan perihal itu, aktivitas darmawisata yang bisa dicoba pula terus menjadi komplit.

1. Terowongan Kastel Alas Purwo Banyuwangi

Selaku area yang terletak di dalam area karst, Taman Nasional Alas Purwo memiliki lumayan banyak terowongan alam yang menarik buat didatangi. Apalagi dikenal terdapat sekurang- kurangnya 44 terowongan yang terdapat di area ini.

Salah satu terowongan yang jadi posisi darmawisata merupakan Terowongan Kastel yang bisa dituju dengan berjalan kaki dari Pos Memancar dekat satu jam menapaki hutan bambu.

Tidak cuma Terowongan Kastel saja, sebagian terowongan lain yang pula kerap didatangi ialah Terowongan Padepokan, Terowongan Lowo, Terowongan Gajah, Terowongan Basori, serta Terowongan Mayangkara. Kunjungan yang dicoba ke gua- gua itu umumnya buat tujuan darmawisata spritual semacam bersemedi serta bersemedi, terkait agama apa yang dianut.

2. Sabana Sadengan

Salah satu ekosistem yang bisa ditemukan di Taman Nasional Alas Purwo merupakan ekosistem savana. Area ini pula jadi tujuan darmawisata yang disukai wisatawan. Ada hutan padang rumput Sadengan yang ialah sabana seluas 84 hektar.

Savana Sadengan ini berada dekat 2 kilometer dari Pos Rawabendo. Wisatawan bisa menikmati pemandangan alam leluasa yang menarik di area ini. Kita bisa memandang sekumpulan banteng serta rusa yang sering berkeliaran, dan burung merak mempunyai bulu- bulu bagus.

Hutan sabana yang sanggup menghipnotis wisatawan dengan kehebohan semacam bersafari di padang sabana Afrika ini tidak dapat dimasuki dengan cara leluasa oleh wisatawan. Pihak pengelola sudah membuat pagar pembatas supaya wisatawan tidak dapat masuk ke dalam area sabana.

Tujuan dari pemisahan ini tidak lain merupakan untuk keamanan wisatawan sendiri. Karena, disini banyak ada fauna buas yang berkeliaran dengan cara leluasa. Namun apabila wisatawan mau masuk langsung ke dalam sabana, hingga hendak memperoleh pendampingan dari aparat pengawal taman nasional.

Pihak pengelola pula sediakan tower penglihatan yang memiliki 3 lantai. Wisatawan bisa menikmati panorama alam savana dari atas tower ini, apalagi capaian pemikiran lebih besar serta pasti saja jauh lebih nyaman.

3. Pura Giri Selaka serta Web Kawitan

Obyek darmawisata berikutnya yang pantas didatangi di Taman Nasional Alas Purwo merupakan Pura Giri Selaka serta Web Kawitan. Posisi dari kedua tujuan darmawisata ini terletak pas di tengah areal hutan serta ialah sisa aset memiliki.

Dikenal kalau Pura Giri Selaka berdiri tidak jauh dari Web Kawitan. Kabarnya pura ini dibentuk selaku tempat buat penuhi aktivitas keimanan dari pengikut agama Hindu yang terus menjadi banyak kala itu.

Sedangkan Web Kawitan ialah aset dari Kerajaan Majapahit serta terkini ditemui oleh masyarakat dekat Alas Purwo dengan cara tidak terencana pada tahun 1967. Semenjak dikala itu, web ini difungsikan selaku tempat buat melakukan aktivitas keimanan mulai tahun 1968.

Seremoni keimanan yang umumnya dilaksanakan di tempat ini ialah seremoni pagerwei. Durasi penerapan seremoni ini merupakan sekali tiap 210 hari. Tujuan dari seremoni ini ialah hajatan atas ilmu wawasan yang sudah diturunkan para dewa buat menghindarkan dari bahaya raksasa yang senang memangsa orang.

4. Tepi laut Triangulasi

Tidak jauh dari Pura Mengateki Selaka serta Web Kawitan, ada Tepi laut Triangulasi yang cuma berjarak dekat 3 kilometer dari kedua area itu. Tepi laut berpasir putih dengan hutan tepi laut ini memanglah amat memesona, terlebih keadaannya terhitung sedang natural. Cuma saja wisatawan dilarang berenang, sebab situasi perairannya amat beresiko.

Julukan Tepi laut Trigulasi didapat dari titik ikat yang ada dalam pemetaan dan pengukuran. Lokasinya terletak dekat 500 m dari bagian utara. Menariknya, pada dekat bulan April hingga bulan November, area ini jadi tempat pelabuhan genus penyu sangat jarang buat menelur.

Sebagian tipe pepohonan yang berkembang di dekat zona tepi laut ialah pandan laut, bogem, serta nyampung. Sebaliknya genus fauna yang sering berkeliaran di mari antara lain bajing, tupai, biawak, babi hutan, lutung, nanai abu- abu, serta sedang banyak lagi. Oleh karena itu area ini pula jadi posisi observasi binatang.

5. Tepi laut Pancur

Dikenal Tepi laut Memancar sebab ada gerakan bengawan mengarah laut yang melampaui tepi laut curam alhasil membuat pancuran. Salah satu aktivitas yang sangat mengasyikkan di tepi laut berpasir besar yang diucap pasir gotri ini merupakan menikmati petang hari sembari menunggu sunset.

Tidak hanya itu, di Tepi laut Memancar ada camping ground yang dijadikan posisi berkemah. Sehabis menunggu sunset, wisatawan bisa menginap di mari. Tidak jauh dari zona tepi laut ada Golok Ireng yang ialah karang gelap ataupun karang mati.

6. Tepi laut Cungur

Pada bagian barat Taman Nasional Alas Purwo ada Mengawasi Cungur yang memiliki ekosistem kombinasi antara hutan lapangan kecil, hutan mangrove, serta hutan tepi laut. Zona tepi laut ini jadi lingkungan buat bermacam tipe burung air dalam bertumbuh biak dan mencari santapan.

Tiap tahun sebagian genus burung migran hendak nampak melewati area ini serta sampai saat ini sudah terdaftar terdapat dekat 39 tipe burung yang hidup di Tepi laut Cungur. Untuk wisatawan yang berterus terang selaku penggemar burung harus buat singgah di destinasi satu ini. Apalagi para periset serta juru foto kerap mencari gambar burung di mari.

Menariknya di tepi laut ini ada ambang air payau yang oleh warga dekat dipercayai mempunyai manfaat. Air payau itu diyakini sanggup membuat orang jadi lebih abadi belia apabila digunakan buat membersihkan wajah.

Sebagian aktivitas yang dapat dicoba di mari antara lain observasi burung, photography, ataupun apalagi bersantai menanti sunset sembari menikmati panorama alam kapal- kapal nelayan yang ambang mudik di lautan serta setelah itu bertumpu di Dermaga Grajagan.

7. Tepi laut Ngagelan

Tepi laut Ngagelan ialah salah satu tepi laut yang bersebelahan dengan Tepi laut Cungur. Istimewanya tepi laut ini memiliki pasir bercorak gelap. Walaupun sedemikian itu, kebersihan pada tepi laut ini amat terpelihara.

Perihal itu disebabkan Tepi laut Ngagelan ialah posisi pelestarian penyu. Pada durasi khusus penyu- penyu hendak menelur di area ini. Bila asian, wisatawan bisa melihat gimana penyu menelur serta semacam apa cara pembebasan bocah penyu.

8. Tepi laut Plengkung

Karakteristik dari Tepi laut Plengkung merupakan ombaknya yang amat sesuai buat melaksanakan aktivitas surfing. Apalagi para peselancar bumi yang sudah berkunjung ke mari berterus terang kalau aliran Tepi laut Plengkung ialah 3 aliran besar terbaik di bumi. Asumsi itu teruji betul, sebab tepi laut ini telah 4 kali jadi posisi aktivitas global.

Dikenal dekat 1 kilometer dari tepi laut terdapat tebing laut serta tepi laut yang menimbulkan ketinggian ombaknya dapat menggapai 2 hingga 3 m. Apalagi aliran laut besar yang jauh dapat menggapai 1 hingga 2 kilometer dengan wujud berlapis- lapis amat baik buat melaksanakan berolahraga surfing. Masa aliran ini umumnya terjalin pada kisaran bulan Juni serta Juli.

9. Menelusuri Hutan Bambu

Hutan bambu jadi posisi darmawisata yang menarik di Taman Nasional Alas Purwo. Lokasinya pula terjangkau, ialah cuma kurang lebih 500 m dafi Pos Memancar serta ialah area terluas di taman nasional ini. Hutan ini sesuai sekali dijadikan selaku spot buat difoto.

Atmosfer natural serta asri sedang sedemikian itu pekat dikelilingi rimbunan tumbuhan bambu, alhasil wisatawan bisa merasa lebih rukun. Sepanjang mata memandang cuma terdapat barisan tumbuhan bambu ditemani kicauan burung yang terus menjadi menaikkan keelokan di hutan ini.

Baca juga : Bermain Jetski dan Berinteraksi dengan Hiu di KarimunJawa

10. Hutan Mangrove Bedul

Salah satu alibi kokoh buat mendatangi Hutan Mangrove Bedul merupakan statusnya selaku hutan mangrove sangat besar yang tertinggal di Pulau Jawa. Hutan ini umumnya jadi posisi pelabuhan burung air semacam pecuk ular, bangau tong tong, raja udang, dan burung migran buat mencari makan dan bertumbuh biak.

11. Kuburan Sejauh 7 Meter

Wisatawan Taman Nasional Alas Purwo tentu penasaran dengan loaksi darmawisata satu ini. Terlebih jika bukan kuburan yang memiliki jauh hingga 7 m. Persoalan yang menaruh rahasia besar merupakan berapa jauh jenazah yang dikebumikan di dalam kuburan itu.

Banyak asumsi yang tersebar kalau kuburan 7 m itu merupakan kuburan dari Eyang Suryo Bujo Negoro ataupun diketahui selaku Mbah Dowo yang ialah pendakwah agama Islam saat sebelum orang tua songo.

Walaupun sedemikian itu, asumsi ini pula tidak sedemikian itu kokoh sebab pada batu batu kubur serupa sekali tidak terdapat catatan hal bertepatan pada ataupun tahun meninggal dari Mbah Dowo. Asumsi itu cuma berawal dari agama para pengunjung yang kabarnya sudah melaksanakan kontak hati buat memahami asal usul Mbah Dowo.